Memulai

Oke, ini yang paling susah: memulai.

Ya, sudah lebih dari dua tahun sejak tulisan terakhir. Lebih tepatnya, sebelum dua tulisan terakhir. Ada sedikit kendala teknis yang membuat akun gue “diinvestigasi” — sampai gue hapus dua tulisan gue terakhir (yang gue pikir itu penyebabnya), but it’s ok, sudah lewat, dan gue bersyukur akhirnya bisa menulis di sini lagi.

It’s been sooo freakin’ long since the last time I write, dan sekarang ini, yuyur aku sedikit lupa cara menulis. Membaca buku pun sudah absen berabad-abad, jadi… 1, 2, 3…Gue ngga menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan ini. Bingung kali aku ni.

Baik, mungkin dimulai dari sini….

Alasan gue berhenti menulis kemarin mungkin terdengar menyedihkan, tapi itu benar: I lost myself. Gue kehilangan diri gue.

Gue merasa dengan menulis gue tidak mendapatkan apapun. Banyak kok orang yang menulis dan mereka dapat insentif. Mereka dapat pembaca, mereka terbitkan buku, mereka dapat followers.

Sementara gue di sini, menulis, dan masih bingung “mau dibawa kemana tulisan gue ini”. Soal apresiasi, gue pun merasa kurang, dan mungkin tulisan gue bukan tulisan yang orang mau baca, atau gue tidak bisa menulis sebenernya. Segala hal negatif begitu mencuat ke permukaan.

Sampai akhirnya gue dapat kerjaan — menjadi sales, kemudian bertemu pasangan gue, dan disitu gue hilang.

Gue tidak menyalahkan kejadian ini, apalagi pasangan gue yang sangat gue cintai. Tapi hidup butuh keseimbangan, dan mungkin ini cara Tuhan membuat semua ini seimbang: Financially.

Hm, tulisan gue akan sangat menyedihkan, jika membahas masa lalu. Karena apa lagi yang penulis punya selain masa lalu? Wait..what…. gue sebut diri gue penulis? — untuk ke sekian kalinya sejujurnya, dan ini selalu menggetarkan hati gue.

Oke, lanjut…

Di masa yang mungkin orang bilang masa keemasan itu, justru adalah masa di mana gue kehilangan diri gue. Gue merasa menulis ini tidak ada manfaatnya, lalu gue bisa dapat uang dari kerjaan — yang susah payah gue kerjain, kemudian waktu terbuang terlalu banyak untuk mengeluh…

Gue hilang.

Mungkin,

Mungkin gue berkelana.

Berkelana lewat pemikiran satu orang ke orang lainnya, berkelana di seputar jalan Jakarta dan sekitarnya, lewat tulisan-tulisan di media sosial yang sedikit sekali (kalau boleh jujur) gue baca, lewat obrolan dari hati ke hati gue dengan pasangan gue, lewat palung terdalam hati gue.

Gue jadi berpikir ulang. Sejak kapan gue menulis untuk dapet apresiasi? Sejak dulu gue menulis karena gue ingin menulis. Karena gue butuh menulis. Karena menulis adalah cara gue berkomunikasi dengan diri gue.

Hhh…

Gue masih ingin menulis. Gue masih butuh menulis. Gue akan terus menulis.

Dan ya, singkatnya, keputusan besar itu pun gue ambil: Resign. Bukan untuk mengejar pembaca di blog, tapi karena gue ingin diri gue kembali. Mungkin dengan menulis, mungkin dengan yang lain.

Gue akan terus menulis.

Melalui ini, gue ingin menyampaikan bahwa gue akan mencoba, belajar, berselancar kembali lewat tulisan. Tentu tidak mudah karena ada ego, tapi gue akan coba.

Dalam tiga puluh hari ke depan, gue akan menulis. Tepatnya menulis dengan tema project yang pertama kali gue dapat di twitter: 30 days writing challenge.

Oke, ngga usah pake ba bi bu, wish me luck! Very welcome soon, mydearself.

--

--

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali