Ini aku, kamu mau apa?

Ia diam memaku setelah memecahkan bagian paling atas tubuhnya. Isinya keluar melumuri wajahnya hingga ke dada. “Oh, ternyata sedikit isi kepalaku”. Lalu ia coba menusuk dada kirinya — pada hatinya. Isinya keluar, kali ini sampai ke lututnya. “Ah, tak begitu banyak pula”. Terakhir, ia cabik kemaluannya — masih dengan pisau yang sama. Kali ini isinya muncrat hingga membasahi tempat ia berdiri, pun cermin di depannya. Kini ia tahu mengapa lelaki suka padanya — kemaluannya.

— Karena Ia Bodoh, Agnicia Rana (Tolong panggil aku Arami — Agnicia RAna MI….), 16 September 2020, Bekasi (PANAS WOY).

Sebetulnya, diriku ini punya dua sisi — yang aku tahu. Sisi yang selama ini orang-orang lihat (sebut saja Amelia), dan diriku saat menulis (sebut saja Rana/tolong Arami saja — aku jatuh cinta betul dengan nama ini).

Mereka masih sama, jadi kau bisa sebut apapun sesukamu — jelas aku ingin kau panggil “Arami” sekali lagi.

Welcome Day 1 — Describe your personality!

Kemarin, demi kebutuhan menulis project ini, kawan terdekatku bilang, “Cepat cek tipe kepribadianmu di 16personalities.com”, aku santai saja lah sambil terus geser jempolku di layar handphone dan pilih-pilih barang mana yang mau kubeli.

Dia tanya lagi, kali ini sambil menebak kepribadianku berdasarkan 16personalities itu — tolong jangan tanya ini basic ilmunya dari mana karena Arami lupa — Amelia mungkin tahu. Dia tebak aku ini ENFJ-T. Pede kali dia.

Tolong… ternyata menjadi Arami susah.

HOP. Cling.

Oke gue lanjut ya. Tebakannya ngga langsung gue gubris, tapi cukup membuat memori gue muncul ke belakang. Sepertinya gue ngga asing dengan ENFJ-T itu. Sepertinya pernah baca detail penjelasan tentang itu, pun gue merasa relate.

Gue pun buka websitenya, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di situ sesantai dan secepat mungkin. Tebak jawabannya apa?

Masih dekat dengan ENFJ-T, tapi ternyata bukan itu.

Setelah mengisi beberapa pilihan jawaban di sana, akhirnya keluar juga hasilnya.

Yas, ENFP-T!

Kalau rekan-rekan yang membaca ini ingin tahu jelasnya apa itu ENFP-T, seperti apa orang dengan kepribadian ini, go check the website https://www.16personalities.com/enfp-personality, karena di postingan kali ini gue akan mendeskripsikan kepribadian gue berdasarkan pengalaman gue pribadi selama menyelami diri gue — oke, berdasarkan hasil kepribadian gue juga deh.

Tbh, begitu baca (lagi) setelah sebelumnya (udah lama banget) ngisi ini, ENFP-T ini memang gue banget sih. Kalau lo kenal gue, lo pasti akan mengatakan hal yang sama, “yas, ini Amel banget!”

Agak singkat aja ya. Ekhm.. Agak gimana gitu yah rasanya mendeskripsikan diri sendiri.

How we interact with our environtment.

Kalau ditanya gue ini introvert atau extrovert, yes, dengan tegas gue akan menjawab: gue adalah seorang extrovert. Simply because I like to be the center of attention. Gue merasa gue selalu punya power untuk talk and do more — tentunya di bidang gue ya. Kalau di bidang yang gue ga paham, dan bukan gue banget, sebodo amat — gue jadi merasa kecil sih. Wait.. kok ini Leo banget ya??!!

Gue tidak pernah malu menunjukkan diri gue di hadapan dunia. Justru gue ingin dunia tahu bahwa Amelia ini exist loh. Gue suka berada di keramaian yang memang gue into keramaian itu. Misal berada di sebuah grup diskusi atau grup gosip or anything in group. Bukan tipe keramaian yang crowded di mall dan lo di situ ngga ngapa-ngapain ya selain nunggu antrean chatime.

Kalau gue lagi sedih atau ngga semangat, jarang kali gue mengurung diri gue — meski pernah ya. Gue akan selalu mencari teman-teman gue. Karena bagi gue, dikelilingi oleh manusia lain itu adalah sumber energi.

Tapi itu ngga selalu, jujur aja. 21% sisanya juga memegang peran yang cukup signifikan.

Yap. Gue juga bisa sedih, mengurung diri gue dan hanya hidup dengan gawai. Menulis, mencari inspirasi lewat handphone, tidak ingin disentuh siapapun. Gue pernah di posisi itu, and I am happy just the way I am happy. Bahagia yang berbeda. Anda-anda usia 20an pasti merasa ini.

Where we direct our mental energy.

Gue adalah orang yang open-minded sekali yang saking open-mindednya gue berencana untuk membuat chanel — yes, of course Youtube — khusus membahas urusan kelamin (pastinya), ketuhanan (bila perlu), self-love, seputar mind and pleasures lah sebut saja — please readers, amini untuk ini. Entah kapan, tapi gue berprogress.

Gue sangat suka dengan perbedaan. Dari perbedaan itu gue belajar. Belajar ntuk hidup seperti “manusia”. Gue belajar dari mantan atasan gue yang kepadanya gue respect banget — ini dari ajaran agama pilihannya, bahwa:

“Hidup itu menyoal timbal balik. Apa yang kita lakukan apa yang kita tuai. Jadi ya… cukup berbuat baik aja biar dapet kebaikan juga.” — siang itu, di cafe dalam gedung di bilangan Jakarta Selatan, saat membahas ketuhanan yang selama itu gue cari.

Buat gue, pembicaraan itu sangat berarti karena berhasil menjawab pertanyaan yang selalu ada di kepala gue — re: gimana kalau…..

Isi kepala gue tidak pernah simple dan lurus. Selalu rumit. Selalu dipenuhi oleh praduga-praduga mengenai apa yang terjadi kalau gue melakukan (1) bla bla, (2) ble ble, (3) blu blu…. (1001) bla ble blu…

Selalu seperti itu. Pada praktiknya… sebetulnya simple banget. Mamam tuh mikir-mikir!

Inilah yang membuat gue suka melamun — re: over-thinking di tengah malam. Nikmat sebetulnya over-thinking itu: kita jadi bisa kasih makan pertanyaan-pertanyaan di kepala kita — dengan pertanyaan lagi lebih seringnya :)

How we make decision and cope with emotions.

Ya. Gue memang sangat emosional dan baper! It’s true. I can express my feelings just the way it feels. It’s so true!!!

Contohnya ya ini, dengan mengebu-gebu menulis ini. Dengan menulis. Dengan karaoke di rumah pakai youtube karaoke. Menangis jika butuh sekali, seringkali marah seperti bocil: diam dan menekukkan wajah sampai double chin terlihat nyata. Temen deket gue pasti paham, ye gak cuy? ;)

Dalam memilih atau memutuskan suatu hal pun gue lebih banyak menggunakan perasaan gue, maka gue persembahkan puisi di awal paragraf tulisan ini. Sometimes, gue akui, being involved to much to our feelings ini yang bikin gue dulu sering jadi people pleasure. Hidup untuk bikin orang senang dan puas. Hft. Capek.

Reflects to our approach to work, planning, and decision-making.

Ya, betul. Gue paling susah untuk buat rencana — bahkan rencana hidup gue sendiri, dan sangat suka berimprovisasi. Ha ha. Tidak mau ribet administrasi panjang, dan perdokumenan menye-menye. Sering terlambat, tidak patuh aturan sampai disindir mantan bos wkwk.

I can’t even decorate my desk tidy and properly :( so sad. Bisa sejujurnya. Sesekali.

Pun… sudah biasa menunda-nunda pekerjaan, tanpa persiapan kalau ada meeting atau acara. Doh. Tolong, aku ingin mengubah ini jadi lebih… rapih dikit lah.

Terlalu fleksible kadang menyakitkan juga. Jadi ngga maksimal gitu loh di panggung — ekhm, panggung. Demam panggungnya jadi lebih berasa.

Underpins all others, showing how confident we are in our abilities and decisions.

Gue ini tipe orang yang selalu menemukan alasan untuk memotivasi diri sendiri — untuk bahagia… saat gue jatuh karena pilihan yang gue ambil, saat gue merasa tidak memiliki kemampuan di suatu bidang, saat gue sedang tidak percaya diri.

Meski kepikiran terus sebelumnya sampai bikin stress dan ngga semangat, selalu aja gue menemukan penolong. Kenapa ya? Gue juga ngga ngerti.

Gue sempat menyampaikan ini ke sobat gue itu saat kami berdua sedang bahas body-positivity. Singkatnya gue bilang, “Gue dikata-katain pernah, bahkan sampai dulu ngamuk ke orang tua gue untuk pindah sekolah (dan ini menyesal sih karena dikabulin beberapa tahun kemudian), tapi dalam beberapa tahun itu pun gue membangun diri gue lagi. Dengan baik ke temen gue, dengan jajanin mereka, ngajak mereka main PS di rumah… gue merasa punya power. Tapi jadinya gue ngga berubah, karena gue bikin yang “mungkin” kejelekan gue (gendut, jerawatan) menjadi suatu hal yang biasa aja dan bisa juga kok menyesuaikan di lingkungan ternyata. Orang bisa tetep suka kok sama gue.”

Dalam diri gue selalu bilang, ”Ngga papa, you deserve better life even you have a weakness — bukan cuma satu sih tapi banyak.” Selalu ngga papa sampai gue merasa aman dan nyaman, sampe berat badan gue di umur 25 tahun ini mencapai berat badan terberat yang pernah gue punya. Jangan menduga-duga kiloannya!

Tapi mungkin harusnya mindsetnya sih yang diubah: motivasi untuk berubah, bukan untuk menyesuaikan dengan keadaan yang ada alih-alih menerima diri — menerima diri itu penting, so the steps after. Bismillah untuk ini.

Hm.. udah sih. Itu isi dari jawaban atas pertanyaan kepribadian gue. Penjelasan singkat tapi ngga-singkat-singkat-amat tentang seorang ENFP-T.

People are always have weakness, but what you need to find is… just a reason. A reason. A reason to do the right thing.

Dari sini gue belajar, oh, ternyata kelebihan gue segini banyaknya — mungkin sebelumnya gue belum sadar atau lupa atau khilaf atau belum mengakui. Dari sini gue tahu ke depannya kudu ngapain — haha akhirnya aku menemukan palu besar di jalan buntu. Thanks pencetus #30dayswritingchallenge!

See? Gue sudah menemukan satu alasan untuk memulai hidup kembali: gue punya segini banyak kelebihan.

Terima kasih sudah membaca, see you!

Regards,

Amelia 95%, Arami nyempil 5%.

--

--

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali