Blue Feeling in the Orange Sky (2)

Agnicia Rana
5 min readSep 27, 2022

And it couldn’t make me to stop feeling worry

That I knew it’s all because of me

Akhirnya aku memutuskan untuk tabah, menerima semuanya, sementara kepalaku masih berproses. Aku diam-diam mencari informasi tentang perempuan itu di instagram, dan facebook. Dan aku menemukan fakta lainnya: perempuan ini pasang pas foto bersama lelaki yang fotonya ia tutup dengan emoticon. Ia beri caption: “Bismillah”.

Ada secercah harapan yang bilang bahwa mungkin saja itu bukan anak dari lelaki yang selama ini tidur denganku. Mungkin saja itu bukan anaknya. Mungkin saja itu anak dari lelaki yang mukanya ditutupi emoticon ini.

Hal ini terucap begitu saja kepada lelaki itu, di sore harinya. Yang langsung ia konfirmasi ke perempuan bunting itu. Ia bilang, perempuan itu ngga pernah bertunangan, dan perempuan ini masih susah sendiri karena bunting saat belum punya suami.

Kubuka lagi facebook miliknya, dan ternyata foto itu sudah dihapus :)

Masih di sore yang sama, kubuka instagramnya di handphonenya, ternyata ada pesan dari perempuan itu yang belum dibuka, isinya: “Ngapain perempuan itu pasang foto sama kamu?”

Waktu itu memang aku jadi bucin lagi. Aku update story foto dengan lelaki itu banyak-banyak, dan aku ganti foto profilku berdua dengannya. Rupanya perempuan ketiga ini memantau instagramku juga, dan cemburu?

Setelah baca pesan itu, ia kubalas, “Ya iyalah orang gue istrinya”.

Tak berapa lama, lelaki itu datang dan marah karena aku cek hpnya. Ia merebut HP itu, sementara aku masih bertahan. Jelas aku lebih marah. Bagaimana bisa perempuan lain cemburu melihat foto pacarnya bersama istri sahnya sendiri? Bukankah aku yang lebih pantas cemburu?

Aku marah pada lelaki itu, aku protes, “Kenapa cuma kamu yang boleh chat sama dia? Kenapa aku ngga boleh?” — sementara aku tahu ia masih chat dan komunikasi dengan perempuan ini, dan perempuan ini sudah tahu kalau aku tahu rahasia mereka berdua.

Lalu dia membentakku dan bilang, “She’s pregnant. And you’re not.” Dia hamil, dan kamu tidak.

Lantas, perasaan perempuan hamil lebih perlu dijaga dari pada aku istrinya yang belum hamil ini?

Aku masih bersikeras menggenggam handphonenya, dan ia merebutnya makin menjadi-jadi, hingga aku terjungkal dan kakiku menyapa ujung bangku kerjanya. Sakit. Tanganku sakit, kakiku sakit, hatiku sakit.

Ia langsung sibuk membuka handphonenya, mungkin untuk menenangkan perempuan bunting itu.

Setelah itu, malamnya lebih suram.

Aku berhasil buka handphonenya yang lain, dan aku cek whatsappnya, dan benar saja pesan dari perempuan bunting itu ada di paling atas. Perempuan itu masih memanggil “sayang” ke suami orang.

Lagi, ia tahu aku bisa buka handphonenya. Dan tentu, kami bertengkar hebat. Tengah malam.

Dia suruh aku sabar berkali-kali, sementara aku tak bisa terima itu semua. Aku bilang lagi padanya untuk membunuhku saja. Aku lelah dan lemah. Seingatku, aku belum berhenti menangis sejak hari pertama kutahu ia punya rahasia dengan perempuan lain.

Aku berteriak, memang sudah gila aku malam itu. Kusuruh ia untuk bunuh saja aku. Berkali-kali. Ia keluar kamar sebentar, dan kembali membawa pisau dapur. Ia bilang, “Kamu saja yang bunuh aku!” sambil menarik paksa tanganku untuk mengambil pisau dan megarahkannya ke tubuhnya.

Aku mengambil pisau itu dan melemparnya jauh, kemudian berteriak keluar rumah.

Lampu depan mati, dan napasku berat. Bukan hanya marah, aku juga takut setengah mati.

Tetangga sebelah rumah keluar, dan aku diam saja membatu. Aku tak minta pertolongan, aku malah masuk lagi ke rumah. Masih marah, dan seingatku itu di saat aku banting kipas dan cangkir ke lantai, dan aku langsung masuk ke kamar, mencoba mengatur napasku setengah mati.

Ia lalu mondar-mandir dan gaduh, sambil kemudian merekam sesuatu. Aku menengok, ternyata ada darah di lantai. Pecahan cangkir itu entah terlempar atau terinjak kakiknya, hingga kakinya berdarah. Ia merekam kaki dan jejak darah di lantai itu, dan dua tahun setelahnya (2022), ia masih menyimpan rekaman itu untuk menyerangku.

Ia marah besar. Ia masuk ke ruangan kerjanya sekaligus tempat kami taruh lemari baju di sana, dan kembali dengan setumpuk bajuku yang ia lempat asal ke lantai kamar tempat aku duduk di sana. Ia kembali beberapa kali dengan semua bajuku, kemudian mengunci dirinya di ruangan itu.

Sampai esok harinya, ia menolak kusentuh. Benar. Aku masih datang kepadanya, mengharap belas kasih. Aku merasa bersalah atas apa yang terjadi malam sebelumnya.

Aku pun memutuskan untuk pergi ke tempat guruku. Kondisi di rumah ini runyam, aku ingin menenangkan diriku barang sejenak. Aku harus keluar dari kondisi ini.

***

Singkatnya, aku tinggal beberapa hari di sana, di rumah guruku. Aku ceritakan semuanya, tidak dilebih-lebihkan. Kemudian aku dibelaki oleh siraman rohani, dan aku pun jadi seperti diriku yang lain. Aku lebih tenang karena dekat dengan Tuhanku.

Tetap, hal di luar ketuhanan, seperti nasihat:

  1. “Kamu masih mau sama dia? Kalau iya, dan benar anak itu anaknya, kamu harus siap dipoligami.”
  2. “Neng, istri itu, selangkah suami keluar rumah, harus banyak-banyakin doa. Kekuatan perempuan cuma di doa. Kita ngga bisa kontrol suami setelah keluar rumah, beda dengan istri.”
  3. “Perempuan itu harus nurut, ngga boleh dominan.”

Tiga hal itu yang paling kuingat. Bukan didukung ke arah hukum yang berlaku (dalam kepalaku, mungkin saja aku bisa memprosesnya ke hukum perzinahan, yang sah-sah saja selama ada bukti perempuan bunting itu), nyatanya, di sana aku diberi kata-kata bijak untuk bisa menerima keadaan ini: kehamilan perempuan itu, dan kesabaran diri dan penerimaan kalau-kalau anak itu benar anak suamiku.

Hatiku bilang, “Aku tak bisa terima, tak akan mungkin terima”, hatiku yang lain bilang, “Andai saja aku turuti semua mau dia, mungkin kejadian ini takkan pernah terjadi.”

Aku mulai tenang, dan kembali ke lelaki itu sampai aku dapatkan bukti ada foto pernikahan perempuan bunting itu dengan lelaki lain. Tak butuh waktu panjang, aku langsung merasa menang dan kasih bukti itu ke lelaki yang masih jadi suamiku. Tak butuh konfirmasi apapun, ia percaya. Kebaikan sedang berbalik ke arahku. Ia marah ke perempuan itu, dan menutup semua akses ke perempuan itu. Kalau anak yang nanti keluar anaknya, silahkan tunjukkan.

Aku tenang, bisa tertawa setelahnya. Beberapa waktu kemudian, ia bilang, “Sekarang aku berdoa semoga itu bukan anakku. Kalaupun iya, aku harap aku bisa pindahin anak itu ke perutmu. Sekarang aku berdoa semoga itu bukan anakku. Tapi kalau itu anakku, aku mau kita yang rawat anak itu.”

Dua kalimat awal yang bikin aku melambung bahagia, kemudian kata setelahnya buat aku terjatuh sejatuhnya. Otaknya dimana ya, aku disuruh rawat anak hasil selingkuh?

Tapi aku mengangguk saja, meski berat. Pikiranku berfokus pada kemenangan atas pernikahan ini, saat itu. Kupikir-pikir sekarang, bodoh juga aku waktu itu.

Beberapa bulan setelahnya, kami kembali lihat update di facebook perempuan itu, yang posting foto seorang anak laki-laki yang sama sekali tak terlihat seperti suamiku.

Terima kasih Tuhan, telah menjawab doaku yang paling serius selama beberapa bulan ini. Kami bersyukur setelahnya. Kupikir saat itu kami jadi pasangan paling bahagia, dan.. kami telah berhasil melewati ujian pernikahan tahun pertama.

Nyatanya…

Aku tak pernah merasa aman setelahnya, meski kucoba sekeras mungkin.

Why… it could becomin’ so pain?
This life is full of aches, and sorrow, and missery…

--

--

Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. #MemulaiKembali