Cara Percaya

Barangkali sebagian besar penulis tahu dan sadari, semakin banyak ia menulis, semakin banyak isi di kepalanya. Ada yang menjadikan menulis sebagai hiburan, belajar, bahkan melepas emosi.

Aku nomor 3.

Sejak aku bahagia, sejak itu pula aku jarang menulis. Jaman bahagia, memori lebih banyak di foto. Kenapa ya? Mungkin karena lebih mudah mengungkapkan makian, timbang mendeskripsikan rasa bahagia. Atau karena sesimple tak ada yang igin melihat raut wajah sedih ataupun kesal di foto? Maka cara paling ampuh adalah melalui media lain: barangkali menulis, yang tak akan mengekspose wajah burukmu.

Menulis bagiku terapi yang cukup manjur. Kadang memang karena susah bicara pada keadaan, kadang yang diajak bicara bebal. Maka lebih baik menulis. Walau orang yang dimaksud mungkin tak membaca, setidaknya isi kepala keluar.

Banyak sekali desakan di satu minggu terakhir, diperparah pada tiga hari terakhir. Seakan matahari menjauh, dan dingin makin dekat. Kematian seperti hanya satu langkah ke belakang. Tapi kau belum siap maju pada kemungkinan.

Hidup memang tai. Keadaan memang seringnya pahit. Tapi pahit mana yang pantas untuk manusia yang tak punya salah?

Jika benar katany bahwa “Karma does Exist”, untuk kesialan yang menimpa orang baik itu namanya apa?

Aku tak bilang diriku baik. Setidaknya aku tak pernah menyakiti siapapun, sepertinya. Jika tak disengaja, mungkin itu beda lagi. Tapi dalam konteks ini, aku rasa tak pernah aku melakukan kejahatan macam ini sebelumnya.

Kau akan tahu, sampai kau rasakan. Bahwa cinta yang selama ini diperjuangkan ternyata tak lagi membuatnya peduli. Mungkin peduli, tapi juga pusing. Banyak hal untuk ditanggung, karena terlalu bodoh dalam bertindak.

Tuhan tidak tidur, hanya manusia yang seringkali lupa saat diberi nikmat. Aku akui, aku salah satu manusia itu.

Manusia yang kufur nikmat. Tak pernah bersyukur. Kalau bahagia lupa Tuhan, saat nestapa begini rasanya ingin mengadu dan menuntut.

Tuhan di sana mungkin bilang, “Makanya datang padaku. Ini memang cara aku memanggilmu.”

Ah, orang sial selalu berusaha bijak bukan?

Jika benar begitu, aku cuma mau bilang, “Tuhan aku banyak dosa, aku minta ampunan-Mu. Sudah cukup nestapa ini, aku tak pantas menerimanya.”

Siapa juga yang pantas menerima nestapa? Itulah manusia yang selalu menganggap dirinya paling sial di bumi. Aku jadi ingat mama bilang, “Jangan lihat ke atas, kita harus selalu lihat ke bawah.”

Untuk satu ini aku jadi ingat perempuan yang lebih sial yang aku kenal. Setidaknya aku masih diberi ruang untuk berjuang mempertahankan semuanya. Perempuan itu tidak. Tidak sama sekali.

Maka aku akan selalu ingat, bahwa ini masih belum berakhir. Masih ada waktu untuk bisa berbuat kebaikan lain dan membuat matahari kembali.

Apapun jawaban di belakang, buruk atau baik, perkara nanti. Hidup harus tetap berjalan. Jika kau benar, kau tak akan takut maju. Jika kau yang diperlakukan tak adil, Tuhan pasti akan bantu.

Keadilan adalah keadilan. Keadilan selalu tegak di mata Tuhan. Keadilan selalu ada buat mereka yang benar.

Ya, beginilah. Salah satu caraku menuntut Tuhan karena isi di kepalaku terlalu banyak dan berbahaya, apalagi isi di dadaku yang ingin kubuat mati rasa.

Cara paling manjur, walau tetap butuh waktu, apalagi untuk urusan berat ini.

--

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Agnicia Rana

Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali