Cintai Diri Sendiri Aja Dulu.

Klise. Kamu jatuh cinta, berbunga-bunga, patah hati, lalu jatuh cinta lagi.

Gue baru saja membaca sebuah artikel yang luar biasa dari mojok, yang judulnya Aku Susah Punya Pacar Karena Tubuhku Gemuk. Tubuh gue juga gemuk, 82kg dengan tinggi 165cm. Wajah gue berjerawat, gigi gue tidak rata — which is sometimes I think that i’m bad in many ways.

Gue sudah dari kecil gendut, dan berjerawat sejak SD, parah-parahnya jaman SMA, dan hingga sekarang pun masih. Gue korban bully, iya banget, karena kebanyakan teman-teman gue di sekolah ya… kurus badannya, tidak seperti gue yang kelas 6 SD berat badan gue sudah menginjak 74kg. Padahal… orang tua gue, pun keluarga gue yang lain tidak memiliki gen bertubuh besar. Bayangkan! Bahkan besarnya tubuh gue (tinggi dan lebarnya) mengalahkan kedua orang tua gue. Saudara gue satu-satunya pun tidak bertubuh seperti gue. So, gue gendut sendiri, guys, di rumah.

Usut punya usut, dulu tuh gue super kurus. Lahir beratnya 2,5kg — which is kecil banget gue tuh. Mami gue cerita, waktu gue baru lahir sampai beberapa bulan gue mandi masih di baskom saking kecilnya. Lalu ketika gue beranjak memasuki usia mulai jalan, gue susah jalan karena kaki gue kecil, pun badan gue. Nah, setelah 4 tahun tidak menemukan perkembangan berarti dari apapun yang dikasih orang tua gue (dijejelin makanan, apapun gabisa), gue mulailah dibawa ke dokter. Dari situ, gue dikasih vitamin obat segala macem untuk menambah napsu makan. Gue mulai banyak makan, juga minum susu kuat banget sampai SD kelas 2. Susunya dancow lagi. Jadi deh, badan gue membesar. HIngga sekarang walaupun sudah ngga minum vitamin apapun, napsu makan gue masih tinggi bangat. Heuh. Begitulah.

Oke lanjut.

Jaman gue SD kelas 2 atau 3, saking gue kesalnya dikatain mulu, gue sampai mimpi like literally di sekolah, semua orang dari anak-anak hingga orang tuanya ngatain gue, “gendut”. Bangun-bangun gue nangis, ngadu ke mama kemudian minta pindah tempat tinggal.

Dan benar saja gue pindah pada akhirnya — tapi bukan karena semata-mata permintaan gue juga, sih. Lalu gue tumbuh besar di tempat baru, menjadi orang yang baru dikenal dunia.

Masih dibully? Masih. Bedanya, di tempat yang baru, gue masuk kelas favorit, dan menemukan juga orang-orang senasib. Ngga lebih besar dari gue, tapi secara fisik sama lah tinggi-tingginya. Jadi lah kita geng “Bole-bole” (dibaca: bul-bul, dari kata gembul). Kita dibully barengan, ber-6, sama anak-anak geng antah berantah — let’s say, kalo dibandingin, sorry to say aja sih, apa yang mereka punya? Ke-alay-an. Kita otak — congkak banget gue astagfirullah haha.

Dari berteman dengan mereka gue banyak belajar untuk lebih positif, untuk belajar menerima kekurangan diri sendiri, dan mencari kelebihan yang gue punya, lalu mengembangkannya. Dari berteman dengan mereka gue belajar, bahwa gue tidak sendiri. Gue belajar untuk mendengarkan keluh kesah mereka, untuk mengerti bahwa di dunia ini semua orang punya kekurangan bukan gue sendiri doang.

Oh, gue juga belum punya pacar, sampai sekarang — fyi, padahal salah satu teman kami sudah menikah, kemudian dua yang lain sudah pacaran sejak jaman awal kuliah. Umur gue 22 tahun. Gue suka menulis, dan salah satu tulisan gue berjudul: Analisis kejombloan (sekarang sudah sampai tiga bagian — yang gue keluarin setahun sekali).

Analisis keombloan ini, singkatnya berisi tentang kenapa sih, gue jomblo? Apa salah dan dosaku, Tuhaaann, sehingga gue belum memiliki pacar hingga usia gue yang sudah menginjak 22 tahun?

Dari sana gue menelisik — tidak hanya sendiri, gue dibantu oleh teman gue yang lebih pro dalam percintaan juga. Pertama, gue melihat dari segi penampilan. Well, secara penampilan gue pikir tidak buruk. Oke, gue gendut. Tapi gue punya selera berpakaian yang lumayan — yang membuat gue cukup pantas dilihat. Muka gue jelek? Engga juga, tuh. Masih ada cakepnya. Jerawat pun masih bisa ditutup lah pake BB cream.

Dan gue termasuk orang yang berusaha untuk tidak percaya bahwa lelaki hanya melihat fisik saja. Tergantung lelakinya, bu. Biasanya sih, kalau lakinya ganteng juga, nyarinya yang cantik (tapi ngga melulu, ya). Pun laki yang kaya, biasanya perempuannya cantik. Iyalah dibayarin ke salon haha. Gakdeng canda.

Kalau lelakimu, yang kau suka, tapi dia ngga suka balik hanya karena fisik, bisa dipastikan kok, dia bukan lelaki yang tepat. Jadi jangan sedih dan gelisah. Ngapain juga sedih karena orang yang udah jelas-jelas ngga tepat buatmu, yekan?

Oke. Akhirnya gue mencoret kemungkinan pertama kenapa gue jomblo.

Kedua, di luar fisik, kekurangan gue banyak banget, pemirsa. Gue malas — sekedar untuk gosok gigi dan cuci muka sebelum tidur pun gue malasnya ya Allaaah, malas banget deh. Terus gue moody. Dan kalau gue sudah moody, pengaruh ke yang lain terutama sosial jadi parah. Kayak tiba-tiba marah ke orang, muka nekuk ampe leher makin ngga keliatan, jelek banget dah, jutek ngga ketulungan, hingga menyakiti diri sendiri — dengan ngga makan (atau malah makan semakin banyak), ngga bersosialisasi.

Lalu gue sadar. Oh, gue belum mencintai diri sendiri. Gue belum menghargai diri sendiri? Gimana orang lain mau cinta sama gue kalau gue belum menghargai diri sendiri?

Hal ini diperkuat oleh pemikiran gue yang kalau punya teman, terutama dia baik sama gue, gue harus 500 ribu kali lebih baik ke dia. Dan yang gue lakukan apa? Berkorban. Selalu ready kalau disuruh nemenin makan, nonton, segala macem — bahkan sampai merelakan waktu istirahat dan belajar gue. BAHKAN gue pernah bolos siaran biar gue dan teman gue itu jadi jalan-jalan.

Sedangkan dia, nemenin aja sesekali. Ninggalin, sering. Pergi sama orang lain, juga sering. Mungkin datang jika ada butuhnya aja (like, gue pilihan terakhir, maybe?) Kecewa kah, gue? Kecewa banget. Kenapa? I expect too much. Gue baik demi berharap dia menghargai gue, sedangkan gue belum menghargai diri gue sendiri.

Kebaikan berlebih inilah yang gue nilai — dibantu teman gue yang lain- menjadi satu kekurangan gue. Kata teman gue, yang juga seorang pengamat, gue ini orang yang terlampau baik dan bisa menerima siapa saja menjadi teman gue.

Kurang bangetnya adalah… gue tidak pernah peka. Gue tidak pernah bisa membedakan perilaku yang harus gue tunjukkan ke orang yang gue sayang, dan ke teman-teman gue lainnya, pun gue tidak pernah bisa membedakan sikap orang yang real ingin berteman baik, dengan yang ingin lebih. Gue baik ke semua orang. Cara gue bergaul sama ke semua orang.

Impactnya, mungkin aja teman-teman lelaki gue ada yang kasih perhatian lebih tapi gue ngga nyadar? Dan karena ketidaksadaran itu, akhirnya dia mundur perlahan. Who knows?

What Im trying to say adalah… coba tilik lagi. Jangan hanya dari segi kekurangannya, tapi lihat juga potensi yang kamu punya, ladies. Perempuan itu terlalu ngoyo, karena dihadapkan oleh budaya yang “perempuan kalau menikah jangan lebih dari 25 tahun, lebih dari itu perawan tua”, atau “Ngga punya pacar ngga laku”, ditambah lagi ketika melihat teman-teman seperjuangan kita sudah menemukan pasangannya.

Sehingga kita lupa bahwa kita punya potensi yang bisa kita kembangkan, yang akhirnya menunjukkan siapa diri kita sebenarnya — diri kita seutuhnya.

Harus menjadi yang baik — dalam hal ini kurus, cantik, punya duit, bukanlah jawaban atas segala kejombloan. Tapi tanya ke diri sendiri aja dulu, “sudah mencintai diri sendiri atau belum?”, “sudah menerima diri sendiri atau belum?”.

Kalau belum, jangan ngoyo buat punya kekasih. Cinta sama diri sendiri aja engga, gimana orang lain mau jatuh cinta?

Ini gue ngomong ke diri sendiri, people.

Begitu.

Jadi dirimu seutuhnya saja, dulu. Cari tahu apa kelebihanmu. Yang suka nulis, menulislah sebanyak-banyaknya sampai kehabisan kata. Yang suka masak, masaklah terus, coba resep baru setiap hari. Yang suka dandan, coba sekali-kali dandanin orang lain biar kamu semakin berkembang. Dan lain sebagainya.

Setelah kamu temukan apa yang kamu suka, jalani terus sampai kamu pro banget di situ. Sibukkan aja ke apa yang kamu suka. Itu perlahan-lahan akan membuatmu lupa dengan perasaan-perasaan negatif yang kamu punya.

Apakah menjamin bakal punya pacar setelah itu?

Tidak.

Tapi dengan kamu menunjukkan bahwa kamu mencintai diri sendiri, menerima diri apa adanya, itu membuka peluang yang lebih dari itu. Peluangnya apa? Coba dulu aja, nanti tahu sendiri, kok :)

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali