Dear Aya,

Source: Pinterest.

Rupanya perangai itu nyata adanya, sampai kau apit dirimu di pojokan dan belukar tumbuh di kepalamu.

Hidup akan tak selalu lurus, kecuali kau hidup di tusuk sate. Itu pun kau bisa pilih untuk keluar dari situ tanpa ragu. Hidup itu fase yang di dalamnya ada waktu. Dan waktu itu relatif. Mungkin bagiku dua jam di rumah itu lama, karena aku bosan ndak bisa ngapa-ngapain. Beda lagi buatmu yang menanti jam pulang kerja kekasihmu, 10 menit saja bagimu terasa seperti 2 tahun.

Normalnya manusia punya tiga wajah, katanya: yang kau tunjukkan pada dunia, yang setengah mati kau sembunyikan, dan yang tak sama sekali kau pun dunia ketahui.

— Si Pendendam, Agnicia Rana, 2017.

Hari yang indah itu, tak dapat kubayangkan jika tak ada kau di sana.

Kegamangan muncul saat mendekati hari paling bahagia seumur hidupku. Kau jadi orang terakhir yang tahu, dan dengan biasa sekali tapi degdegan aku memberi kabar padamu.

Cuma lo yang tahu gue seborok-boroknya gue, cuma gue yang tahu lo seborok-boroknya elo.

Rasanya ini tidak berlebihan, mengingat apa yang kita bagi adalah wajah yang sama sekali dunia tak tahu. Mungkin sebagian kita buka ke dunia lewat tulisan-tulisan yang kita cipta, namun tidak semuanya — atau paling tidak tak secara gamblang dan utuh.

--

--

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Agnicia Rana

Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali