Hubungan Benci-Cinta-Benci

Day 11 of 30 days writing challenge: Talk about your siblings.

Photo By History Daily.

Hm, susah sebetulnya tema ini, tema paling susah kedua setelah tema hari ke-5 (about your parents). Bagiku bicara soal keluarga itu yang paling susah, karena hubungan yang… aneh didefinisikan. Diromantisasi nyatanya ndak romantis amat, dan ndak mungkin juga buat ironi.

Paling romantis sama papa dan mama itu waktu pelukan lebaran dan pelukan saat aku menikah. Kalau sama adik… waktu paling romantis itu saat dia kurayu dan akhirnya mau antar aku malam-malam demi seblak atau martabak, atau saat aku butuh apapun malam-malam, dengan imbalan nasi goreng sebungkus — maunya dua, tapi setelah nego akhirnya dia mau sebungkus, dan dia selalu beli sebungkus sisanya.

Kalau ditanya apa yang sama-sama kita suka, jawabannya dua: kucing dan mobile legend. Jadi kalau aku pulang ke rumah, dua itu aja yang bisa bikin kita tiduran santai di satu kamar. Kucing di dada, dan smart phone di tangan lalu mabar berjam-jam. Kemampuannya main game satu itu cukup bagus, dan aku sering juga minta dia main di akunku biar aku cepat naik level HAHA.

Oh, jaman dulu, kami juga suka main PS dan nintendo bareng. Crash Bandicoot, Rugrats, Crash Bash, apa lagi ya? Dan itu yang bikin kami betah berjam-jam bareng duduk bersebelahan.

Soal emosi, tensi kami sama tingginya, makanya kalau sudah berantem, kami berdua seperti anak setan lagi perang. Pernah mama sampai kasih pisau ke kami berdua saking luar biasa setannya. Jangan dibayangkan, jangan ditiru.

Seringkali, kalau di rumah kami pura-pura tidak ada satu sama lain, demi menghindari pertengkaran. Padahal, dulu, kuingat-ingat, kami sering main bareng. PS dan nintendo itu tadi, dan jauh lebih ke belakang: main rumah-rumahan. Aku buat rumah pakai kain biar jadi tenda, memasukkan bonekaku ke dalam situ, di luarnya aku bikin dapur darurat di sana. Dan dia suka masuk rumahku, ikut main mobil-mobilan.

Lain waktu kami juga kompak main pasir di pantai pakai peralatan yang pada jamannya, mungkin cuma sedikit yang punya. Akhirnya mainan itu hilang juga entah kemana. Terakhir cetakan pasir dan sekopnya kupakai juga untuk main masak-masakan.

Saat kami mulai gedean dikit, saat itulah kami jadi sama setannya. Tepatnya aku lupa masalahnya apa. Tapi intinya, tiap aku marah padanya, aku selalu lempar koleksi hotwheelsnya ke atas lemari. Sukurin!

Kami sama-sama suka makan banyak dan pedas. Pernah waktu aku marah sama dia karena dia ngga mau ikut beli sarapan dan sudah bikin aku kesal pagi-pagi, aku beli soto dan minta penjualnya kasih sambal yang super banyak. Rasakan pedasnya sampe ke bool!

Dia itu juga licik kali, dan pelit. Kalau kau minta antar ke suatu tempat, dia selalu minta bayaran. Kalau disuruh patungan beli jajan juga jarang maunya.

Dia paling ngga suka mandi, dan disuruh. Buruk banget tabiatnya!

Dulu dia masih bisa disuruh: ambilin minum, ambilin piring, ambilin ini-itu, lulurin punggungku, sekarang hidupnya sudah terlalu sibuk seperti bos. Ya, memang dia satu-satunya penerus bisnis papa, jadi sekedar lulurin punggung kakaknya nampak bukan levelnya lagi.

Musik kesukaannya itu yang seperti Avenged Sevenfold, atau lagu standar percintaan indonesia. Bukan aku banget, maka aku sering merasa terganggu, meski dia santai saja memutar musik itu keras-keras.

Sudahlah, dia punya hidupnya sendiri yang bebas dan semau dia.

Hubunganku dengannya ya seperti itu. Benci-Cinta-Benci. Lebih banyak bencinya. Ditanya sayang ya.. standarnya sayang kakak ke adik lah. Normal aja. Saling melindungi, dan seringkali tiba-tiba tanya kapan aku pulang. Bukankah itu salah satu bahasa ungkapan kangen?

Momen cinta kami itu saat dia curhat masalah pacarnya — sekarang mantan — yang bikin dia bucin setengah mampus, dan waktu kemarin dia terlalu empati padaku saat aku ada masalah yang… cukup berat. Dia antar aku ke terminal bis, aku menangis sejadinya, dan dia diam saja.. setelah kami berpisah, dia kirim aku pesan begini: “Gue ikutan nangis tahu, ngga tega liat elu nangis.”

Well, apa lagi tentang dia? Sudah, lah. Doaku, semoga kau selalu diberkati, dik!

--

--

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali