Menjawab Mengapa

Agnicia Rana
3 min readFeb 4, 2023

Day 1 of 30 Days Writing Challenge — Why You Must be in This World?

Menjawab pertanyaan, “Mengapa kamu harus ada di dunia ini?” itu sulit.

Pertama. Setiap anak yang lahir dari rahim ibunya sepakat bahwa ia tak pernah minta untuk dilahirkan. Termasuk aku.

Kedua. Semakin kita dewasa, semakin banyak ekspektasi yang muncul.

Ketiga. Ya. Memang aku pribadi ngga kepikiran aja jawabannya.

Selama 27 tahun hidup, rasanya isi kepala dan kepribadianku selalu berubah-ubah. Waktu kecil aku bermimpi untuk jadi guru, karena kupikir menjadi guru adalah tugas mulia. Di samping itu, aku juga cinta banget sama wali kelasku dulu — Bu Sa’diah. Sosok wanita seperti ia yang menginspirasi aku untuk menjadi guru.

Lalu aku banyak belajar, agar selalu ranking 1. Entah karena pelajaran jaman SD mudah atau apa, aku bisa melaluinya semudah itu. Ranking pertama selalu aku dapat sejak kelas 3 SD, sampai kelas 6. Aku juga pernah ikut lomba siswa berprestasi — walau ngga bawa pulang piala sih.

Setelah itu, aku dipaksa menerima keadaan. Menerima perubahan. Menerima lingkungan baru yang menurutku tidak lebih baik. Sejak itu, aku tak memiliki motivasi untuk menjadi nomor 1 lagi. Dan segala pelajaran yang aku terima tidak ada yang terlihat mudah lagi. Bahkan matematika yang dulu pelajaran favorit, jadi momok yang begitu menyeramkan.

Dan aku cuma jadi siswa yang biasa-biasa saja.

Kesulitan itu berlalu sampai aku SMA — fyuh, akhirnya berlalu juga.

Di SMA, aku masih kesulitan dengan matematika dan mapel sains lainnya — sementara aku ini anak IPA. Kalau saat SD aku selalu di ranking 1 teratas, mungkin saat SMA aku ada di peringkat 5 terbawah. Ironi, tapi aku ngakak aja sih. Dalam kepalaku, kalau aku lemah di pelajaran itu, artinya yaa memang itu bukan yang kusuka.

Kalaupun ngga dapat ranking, ya ndak papa. Kan yang mau aku sekolah di sini Mama dan Papa.

Selalu begini.

Sampai selanjutnya, saat aku kuliah. Segala permasalahan masa lalu mulai kelihatan konklusinya. Bersamaan dengan masalah yang lain datang.

Masalah hati, paling bikin frustrasi. Setelahnya baru masalah duit. Apalagi sih masalah anak umur 20an? Sepertinya ngga jauh-jauh dari mencari jati diri. Mempertanyakan sebenarnya aku ini apa, mau jadi apa? Begitu kan?

Selama dua tahun ke belakang, aku seringkali berkontemplasi tanpa menemukan jawaban dibalik pertanyaan, “Why?” yang kerapkali muncul. Kebanyakan menyoal cinta dan duit.

Mulanya, aku pikir semua jalan yang kupilih bersama orang yang kucintai itu salah. Namun aku tetap berpikir bahwa ini adalah sebaik-baiknya pilihan, maka kami harus lanjut. Bukan apa-apa, alasan simpelnya karena kepala kami berbeda. Tidak simpelnya karena nilai tukar barang dan makanan makin tinggi, dan dapat anak hasil persetubuhan dua manusia tidak semudah bersetubuh itu sendiri.

Pada akhirnya kami gagal. Selama 4 tahun mengenal dan menjalin kasih, 2 tahun menikah, lalu aku gagal.

Kegagalan itu tentu bikin aku makin bertanya-tanya banyak hal. Mengapa A, mengapa B, mengapa C… Sampai pertanyaan esensial, “Mengapa aku harus hidup?”

Aku selalu takut mati, begitu pun kemarin, begitu pun hari ini.

Maka bertahan untuk hidup adalah jalan satu-satunya, yang lagi-lagi buat aku berterima kasih pada rasa takutku pada kematian.

Lalu aku sibuk menilai diri. Pelan-pelan aku belajar bahwa hidup selalu sulit, bahkan untuk manusia terkuat pun. Pada akhirnya kita hanya bisa bermimpi dan membuat rencana. Sisanya, biar angin yang membawa kita ke arah yang ia mau. Biar tanda-tanda kecil di udara, di jalanan, di kepala… yang menjadi alasan untuk tetap melaju.

Aku bisa bilang ini, setelah dipenuhi kabut selama beberapa bulan terakhir: bahwa pada akhirnya, semua ada baiknya.

Bukan kebaikan yang hanya semu. Bila mungkin hanya kita yang tahu, ya tak apa juga.

Aku bisa hidup sekarang ini penuh keyakinan yang paten: bahwa aku berharga, bahwa aku bisa lebih dari sekedar aku di hari ini.

Tuhan pelan-pelan bilang dan kasih jawaban akan keresahan. Doa-doa yang dari dulu kupanjatkan dan tak terkabul, sekarang ini aku syukuri dengan hati yang lega.

Aku pantas hidup dan berkehidupan, kurasa itu sudah menjawab pertanyaan besar untuk pertanyaanku menyoal alasan hidup di dunia ini.

Aku terima kasih pada

dan yang bantu aku berdiri lagi, bantu aku sembuh, bantu aku banyak hal.

Aku percaya apa yang kita lalui ndak akan pernah jadi sia-sia. Justru, aku bersyukur, kita wajib bersyukur karena dikasih kesempatan untuk belajar dan untuk meresapi hidup lebih dalam.

Terlebih… karena kita bisa bertemu.

--

--

Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. #MemulaiKembali