Momen Jatuh Cinta (2)

Bagian kedua.

Setibanya kau di kamar kosmu, yang kau tunggu hal itu lagi: balasan pesan darinya.

Maka kau dan dirinya berdua saling menatap gawai dari bilik kamar masing-masing dan menikmati malam kalian berdua.

Lagi-lagi kau baru rasakan hal itu: jatuh cinta dan dicintai. Mengharapkan dan diharapkan. Kau masih terlalu enggan mengakui, tapi senyummu pasti lewat kata-kata yang keluar dari layar gawaimu: pesan darinya.

Kau tidur sambil tersenyum. Mungkin kau tak sadar, sampi esok pagi yang kau temui pesan berisi ucapan selamat pagi darinya. Harimu cerah sepanjang hari. Matahari mengikutimu tanpa malu, dengan sinar yang tak tanggung-tanggung.

Kau dan ia sepakat untuk bertemu lagi kemudian. Kali ini di kamar apartemennya, di lantai 20. Pertemuan itu sudah kalian rencanakan. Ia tanya apa sabun dan shampoo yang kau pakai, ia tanya kau mau makan apa — kau bilang martabak telur dan pempek. Ia bahkan tanya kau pakai sikat gigi merk apa. Kau menjawabny santai saja, tak tahu pula apa yang akan ia lakukan dengan itu semua.

Sebelum sampai sana, Tuhan menguji kalian berdua. Menyoal trauma yang kau punya, masa lalumu dan masa lalunya. Kau marah, emosimu naik sampai level ujung. Kau mengurungkan diri untuk menemuinya. Kau pikir ia sama saja dengan lelaki-lelaki sebelumnya. Kau bahkan hampir menyerah, ia menunggumu sambil was-was dan pasrah.

Di akhir perjuangannya, ia kirimkan foto barang-barang yang ada dalam list yang tadi ia tanyakan. Semua ada dalam foto yang ia kirim. Ia bahkan mempersiapkan kedatanganmu sebegitunya.

Lagi-lagi perasaanmu berubah, kau mengambil langkah yang bahkan kau tak tahu masa depannya: kau akhirnya datang kepadanya.

Sampai sana, ia menangis, ia sampaikan penyesalannya. Ia sentuh pundakmu, ia melihatmu dengan tulus — yang bahkan tak pernah kau lihat lewat mata lelaki manapun. Ia menciummu, itu ciuman pertama kalian, satu minggu setelah pertemuan pertama. Kau menangis, mendapati dirimu begitu istimewa di matanya.

Kalian lanjutkan malam itu dengan senyum pasrah dan tabah. Pasrah untuk hal yang selanjutnya kalian lakukan setelah itu, tabah untuk malam-malam — entah hitam, kelabu, atau bahkan terang benderang sekalipun — setelahnya.

Baru kali itu kau rasakan ada yang menatap matamu dengan tak biasa. Ia menatapmunsaat kalian bercinta, hal yang tak pernah lelaki lakukan.

Kau menangis, mendapati dirimu bahagia.

Tuhan baik, Tuhan tahu kapan waktu yang tepat.

Kau jalani hari-hari setelahnya tanpa minus, kau bangun cerita masa depan nan penuh bunga bermekaran. Ia bilang ia tak cari wanita untuk ia mainkan perasaannya. Ia mencari pasangan untuk seumur hidupnya.

Ia bagikan kemudian rahasianya yang pling kelam. Kau merenung, mempertanyakan dirimu apakah kau bisa menerimanya dengan itu? Kau mengangguk, menatap matanya dan bilang “iya”. Lagi-lagi logikamu tak kau pakai. Dan hingga sekarang kau tak peduli.

Hari-hari selanjutnya — hari-hari yang tak pernah kau kira, selalu nampak sempurna. Nampak lebih dari sempurna. Kau masak di apartemennya, makan bersama dengannya, dan ia menyukai masakanmu. Makannya lahap, tak ada banyak bicara dan jeda. Ia begitu menikmatinya. Kau pun bangga pada dirimu sendiri.

Kau kenalkan dirinya pada ibumu, lalu keluargamu. Semesta memberkati. Semua — lagi-lagi — berjalan sempurna. Semesta membantumu dan dia terus bersama, di jalan yang sama — yang tentu tak pernah kau bayangkan akan terjadi padamu.

Ia begitu menginginkan engkau. Kau begitu berprestasi di matanya. Kau begitu sempurna di matanya, sedang kau masih menimbang apakah kau akan siap atau sebaliknya.

Kau buktikan nyalinya, kau ajak ia datang ke acara keluargamu yang dilakukan setahun sekali. Ia bisa dengan mudah berbaur menjadi satu dengan keluargamu. Ia lelaki pertama yang kau bawa. Kau serius dengannya.

Saat itu kau makin yakin, kau tahu ia sempurna untukmu dan keluargamu, juga kehidupanmu setelahnya.

Dan benar, kau menerimanya. Hingga saat ini, kau duduk menulis — berikutnya membaca — tulisan ini.

Ingatlah ini, momen saat kau kau bersamanya — jatuh cinta kepadanya, dalam keadaan terberat. Berharap muncul juru selamat yang akan menyelamatkan hidupmu dengannya.

Kau tak akan tahu, hingga kau rasakan sendiri. Kau akan terus bertanya soal cinta, hingga hilang rasa cintanya padamu.

Terima kasih sudah bertahan sejauh ini.

--

--

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Agnicia Rana

Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali