Musik dan Nostalgia

Day 8 of 30 days writing challenge: The power of music

Photo by @giftkone (via pinterest)

Meski hidupku dan keluarga bukan dari musik, tapi kami cukup — bahkan sangat — menikmati musik. Musik adalah sebagian kecil dari kisah hidup keluarga kami yang penuh mimpi.

Waktu kecil dulu, Papa punya koleksi kaset Tommy J. Pisa, Vina Panduwinata, Nike Ardila, Nicky Astria, Ebiet G. Ade, dan banyak lagi yang tentunya ngga aku hapal. Bahkan papa sampai punya satu set alat karaoke— pemutar CD dan kaset, dua microphone, bahkan speaker— demi memuaskan diri untuk bersenandung di rumah. Kadang sendiri, seringkali sama mama.

Dulu aku sebal, karena setiap karaoke, papa selalu set volume paling kencang, sampai radius tiga rumah mungkin terdengar. Keras kali. Untung rumah kami di tengah kebun, yang jarak lahannya ke rumah lainnya mungkin bisa 2-5 meter. Saat di Bekasi pun, untungnya rumah kami punya tiga lantai, yang dari lantai dua sebelah kiri bersebelahan dengan genteng tetangga, sebelah kanan dan belakang kuburan. Sejauh itu, belum pernah ada manusia atau makhluk lain yang protes. Hiii….

Waktu di Bekasi, sebelum kami pindah, hampir tiap hari papa putar lagu Nicky Astria, sampai aku hapal dua lagunya (Jarum Neraka dan Mata Lelaki — reffnya nempel kali di kepalaku ni, “Jiwamu! Selalu dalam bahayaaa! Terancam! Setan jarum nerakaaa! Jarum neraka! Jarum neraka a a a a!” – jujur siapa yang ikut nyanyi?). Hampir tiap malam papa putar lagu ini, gimana ngga bangun tidur lagu itu yang terngiang di kepala? Untuk ndak mimpi boneka susan yang lagi suntik pasiennya.

Sampai di rumah baru pun aksinya tidak berkurang sedikit pun, bahkan ia buat panggungnya sendiri di kamar mandi dengan gilasan cuci kayu – yang sampai patah di hari ke-sekian konsernya.

Begitulah.

Kalau favorit papa lagu pop 80–90an, Mama beda lagi. Tiap hari dia selalu setel radio dangdut, bahkan sampai bergabung di komunitas pecinta radio dangdut itu! Kalau ada duet langsung pun, mama pasti ikutan. Selalu begitu, hampir tiap hari.

Adikku pun beda lagi. Musiknya ngga pernah mau masuk telingaku. Avenged Sevenfold, apa lagi deh musik yang sejenis. Bahkan ketika dia pakai headset pun, musiknya masih terdengar. Pusing aku dan mamak bapakku tiap dia putar lagu itu.

Kalau aku, aku suka lagu yang… apapun sebetulnya asal sopan di telinga. Jazz aku suka, pop juga, indie juga suka. Dulu bahkan aku tak asing dengan lagu Band macam D’massive, Samsons, Ungu, Radja, Peterpan, Hijau Daun, The Virgin, Kangen Band, Kuburan Band, semua masuk telingaku, dan aku bisa dengan bebas bersenandung dibalik suara musik dan penyanyinya.

Dulu aku pernah bawakan lagu D’Massive saat pagelaran seni SMP, judulnya… aku lupa. Liriknya gini, “Saat aku tertawa… di atas semua.. Saat aku meratapi kepedihanku.. Aku… ingin engkau selalu ada… akuu ingin engkau aku kenaang. Selamaa aku.. masih bisa bernapas…” itu. Nyanyi bertiga dengan kawanku, aku lupa siapa.

D’Massiv itu Band favoritku dulu. Lagunya enak.

Sejak SD pun aku sudah biasa tonton ajang pencarian bakat menyanyi. AFI, AFI 2, bahkan sampai AFI terakhir yang aku lupa season berapa. Lalu Indonesian Idol, Indonesian Idol 2, sampai yang sekarang. Itu tahun 2000an, aku masih SD, dan papa selalu suruh aku SMS idolaku. Selalu gitu, sampai kita pernah telpon kesana. Aku SMS sampai pulsa Papa habis, dengan harapan idolaku ndak tereliminasi. Papa juga happy happy aja, malahan dia ikutan SMS idolanya juga.

Kalau malamnya aku ketiduran ngga lihat sampai babak eliminasi, paginya papa laporan siapa yang semalam gugur. Begitulah kami. Setiap minggu, ada acara itu. Uh, kangen.

Bahkan soundtrack AFI pun aku masih hapal! Haha. Seru ya.

SMP sampai kuliah — teman makin banyak, internet mulai ada — , aku kenal banyak musisi lawas dan current — yang keren, dan mungkin favoritmu juga — seperti: The Beatles (aku pernah cover lagu mereka HAHA), Bee Gees, M2M (the day you went away hay haayy), MYMP, Paul Anka, Frank Sinatra, Ella Fitzgerald, Elvis Presley… ah, banyak, dan suka semua. Bahkan ada masa di mana satu minggu aku putar semua lagu masing-masing dari mereka. Cuma satu dari mereka tiap minggunya, tergantung mood. Suka-suka deh pokoknya.

Sekarang musik kami semakin berbeda. Telinga Papa dan Mama yang masih asyik dengan musik era 80–90an atau dangdut the music of my country, aku pun beda. Aku penikmat musik masa kini, lawas pun aku masih sering dengar – baru tadi pagi dengar pas kepikiran untuk bahas ini.

Sekarang kami ndak pernah karokean bareng lagi. Mama Papa pun mungkin sudah sibuk dengan karoke di gawai masing-masing. Teknologi memang merubah segalanya.

Aku ingat, beberapa tahun ke belakang waktu papa baru pegang android, dia heboh bikin daftar musik lawas dari hampir semua penyanyi yang dia tahu, dan suruh aku unduh semua lagu di daftarnya itu. Heboh sekali sampai aku pusing. Lagu-lagunya bahkan masih ada di laptopku, ndak aku hapus. Kenang-kenangan.

Beres diunduh, langsung dia putar terus-terusan, sampai besoknya, sampai berulang terus lagunya. Bahagiamu sederhana sekali, Pa.

Mama lebih up to date dan ngga terlalu gaptek seperti Papa. Dia ngga unduh semua lagu yang dia mau, tapi dia tonton youtube. Ya.. papa sekarang juga buka youtube sih haha.

Bagiku, musik itu selalu bawa diriku jauh ke belakang. Ke masa-masa yang entahlah, tergantung lagunya. Kadang senang, kadang sendu juga.

Saat ditinggal – yang katanya – kekasih, dan dia suka lagu patah hatinya mantan pacar Selena Gomez, The Weekend berjudul Call Out My Name, waktu dengar lagu itu lagi, rasanya kembali ke saat kami di kamar dingin berdua dalam gelap, aku sibuk memandang langit-langit saking ngga tahunya hubungan ini mau dibawa kemana, dan bisa-bisanya dia sibuk main game. Aku benci ingat itu haha.

Saat jatuh cinta pada lelaki virtual, yang bikin aku gila dan stress karena dia penipu – dia bilang mau datang, tapi di hari kedatangannya dia hilang, besoknya balik lagi, dan beberapa kali dia lakukan hal yang sama bahkan sampai sekarang tak pernah ada temu di antara kita – aku galau sambil dengar lagu Lenka judulnya Blinded By Love. Sekarang kalau dengar, tentu yang kubayangkan: aku di kos sambil buka laptop tapi cuma bolak balik buka file tanpa tujuan, sambil curi-curi pandang ke gawai menunggu pesan masuk darinya.

Saat dengar lagu The Chainsmoker, aku kembali ke masa 3–4 tahun yang lalu, di acara Cemonk Run malam-malam, saat DJ tampil membawakan lagu itu, dan kami semua loncat-loncatan bak orang gila. Juga saat aku di Bar, goyang pinggul di lantai dansa berharap luruh semua beban. Eh yang datang laki-laki bawa gelas minumnya. Benar, beban hilang saat itu, aku kirim express lewat bibir sampai kemaluannya.

Lagu Payung Teduh dan Danilla – hampir semua judul – selalu bawa aku balik ke malam-malam yang dingin di kos, depan laptop sambil beresin skripsi, sebelah kanan asbak dan rokok, sebelah kiri teh pucuk atau Jaesu, di dalam kardus tempat aku taruh laptop di depanku, ada anak-anakku lagi tidur di sana.

Musik selalu membawaku pada masa lampau, yang ingin aku lupa, ingin aku kenang, bahkan ingin kuulangi sekali lagi.

Tapi ngga mungkin bisa.

Dan rasanya ngga mungkin lupa, melihat begitu cepat musik yang masuk lewat telinga sampai ke memori, dan buka semua laci di dalamnya.

Tak apa, namanya juga nostalgia. Pasti selalu begitu.

--

--

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali