Penulis Perempuan yang Paling Kusuka

Agnicia Rana
4 min readMar 19

--

Week 5: Favorite female writer.

Aku akui, dalam 5 tahun ke belakang, buku yang kubaca sangat sedikit — tak ada apa-apanya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Padahal di 2020, atau 2021, ya? Aku sempat haul buku dari Gramedia, dan sampai sekarang hampir semuanya masih tersegel.

Dulu aku bisa bilang bahwa hobiku adalah menulis, lalu membaca. Lima tahun ke belakang, aku tinggalkan dua hal itu (meski menulis masih dan intensitasnya lumayan).

Kupikir, aku seperti goyah dan kehilangan tujuanku apa.

Aku pernah bilang cita-citaku ingin jadi penulis, aku harus punya novel yang ada namaku, yang bisa kamu baca. Nyatanya, saat ini aku malah kebingungan akan banyak hal. Yang lain ndak selesai, apalagi cita-cita satu ini?

Tapi ngga papa, aku masih percaya bahwa suatu saat aku mampu. Kalau tidak jadi fisiknya — dalam bentuk buku, kamu masih mau kan, baca laman mediumku?

Aku menyadari bahwa tulisanku tak lepas dari apa yang kubaca. Masa kecilku hidup bergelimang buku, dan tak sulit bagiku untuk memahami semua isi yang kubaca. Aku bersyukur punya privilege ini — yang papaku selalu support aku untuk membaca. Tiap minggu pasti aku ke Gramedia, yang jadi spot favoritku: Buku cerita anak dan komik, Atlas (yang padahal isinya itu-itu saja ya), alat-alat gambar dan crafting.

Papa langganan koran tiap hari (dan pasti kubaca — yang jadi favorit: kontak dan informasi orang hilang atau meninggal, atau seputar tragedi kecelakaan), TTS (aku selalu isi tapi ndak pernah sampai lengkap, Majalah Bobo, Majalah Gaul, Majalah Kartini, Majalah Mobil, Majalah HP dan elektronik, pokoknya semua sales (apapun) yang datang ke papa pasti papa ‘iyain’ deh. Kebayang seberapa keluarga kami terpapar tulisan?

Itu berlangsung sampai kelas 6 SD, dan waktu kami semua pindah ke rumahku yang sekarang, rutinitas itu jadi ngga ada lagi. Aku juga marah, kenapa buku-buku, komik, majalah semua itu ndak mereka bawa. Marah sampai sekarang, tapi mau bagaimana lagi?

Sebagai kompensasi, aku yang mulai tahu ada perpustakaan di dunia ini, aku jadi sering mampir ke perpustakaan sekolahku, dan di situ aku temukan Novel Agnes Jesicca dan Asma Nadia (Novel ini dijadikan film setelahnya, guess what’s the title?!). Am I too young to read them?

Aku masih umur 13 tahun dan aku sudah baca novel tentang poligami dan yang isinya ciuman. How funny it was — maksudku, sampai sekarang apapun yang kubaca begitu terinternalisasi dalam diriku, begitulah.

Selanjutnya, tambah besar lagi, aku kenal Ika Natassa, Eka Kurniawan, Bernard Batubara, Djenar Maesa Ayu, NH Dini (yang novelnya menjadi bacaan yang aku baca begitu khikmatnya, bahkan aku jadikan buku yang aku ulas dalam tugas resensiku di kelas 10 SMA — aku ingat banget judulnya Tirai Menurun, dan ini bukunya yang paling aku suka!), Okky Madasari dengan novel Entroknya yang luar biasa (dari novel ini, aku mengenalnya dan langsung menyukainya).

Lalu, penulis perempuan mana yang paling kusuka?

Aku bingung. Aku tahu banyak penulis, dan dari yang kusebutkan di atas, itu yang paling kusuka. Penulis selalu punya cara mereka sendiri untuk menyampaikan buah pemikiran mereka. Kalau ditanya dari segi kepenulisan (cara menulis), aku akan bilang favoritku itu Mbak Ika Natasha. Sementara kalau dari tema dan isi, aku paling suka Mbak Okky Madasari dan Ibu NH. Dini.

Cara menulis Mbak Ika Natassa yang kerapkali dari perspektif “aku” atau orang pertama, bikin aku merasa jadi tokoh utama di sana — rasanya begitu personal, jadi “aku” banget. Terlebih, bahasa yang digunakan Mbak Ika Natassa juga bahasa yang kekinian, dan kepintaran berkomunikasi tokohnya tergambar jelas dari bagimana ia pakai bahasa inggris untuk percakapan para tokohnya (Inggris Jaksel, yang campur-campur, tapi ini bukan yang nge-sok, yang pintar gitu loh).

Hampir semua buku Mbak Ika Natasha aku punya dan baca, dan yang jadi favoritku: Antologi Rasa dan Critical Eleven.

Oh, uniknya lagi, kamu bisa temui tokoh-tokohnya (tokoh novel Divortiare series di Twitter! Feels so real!)

Dari segi tema, a whole story, aku suka dengan apa yang selalu dibahas di buku karya Mbak Okky Madasari dan Bu NH. Dini. Mereka kerap membahas isu sosial, gender, diskriminasi, dll yang terkait — dan ini yang buat aku betah baca berlama-lama.

Issue yang dibahas relate dengan pertanyaan sekitar kita di mana patriarki masih langgeng. Setting tahun yang dibawa jauh di belakang, rasa-rasanya, masalah yang diangkat masih relate. Dari novel-novel karya mereka, mataku bisa terbuka lebar, lebih lebar lagi, lebih buka lebar lagi.

Kalau kamu baca novel mereka, pasti kamu tahu kenapa.

Issue perempuan dan kesetraan gender tak pernah lepas dari bacaan yang menarik untuk kubaca. Kita butuh tempat lebih untuk menyuarakan issue ini, kan?

Menurutku, salah satu caranya adalah dengan membuat tulisan yang punya fakta. Seperti kataku sebelumnya, tulisan-tulisan yang kubaca begitu terinternalisasi pada diriku, seharusnya bagi yang lain juga, kan?

Maka, menurutku, karya-karya seperti tulisan Mbak Okky Madasari dan Ibu NH. Dini ini harus dilanggengkan di rak buku setiap rumah. Bagiku, apa yang mereka tulis merupakan cara perempuan dan kaum tertindas lainnya untuk berjuang melawan diskriminasi.

Kalau kamu belum tahu mereka, aku rekomendasikan buku mereka untuk kamu baca segera!

--

--

Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. #MemulaiKembali