Resolusi 2023

Agnicia Rana
3 min readJan 16, 2023
Source: Pinterest.

Tahun lalu, tahun yang naik turun. Awal tahun, dimulai dengan keraguan, kemudian jatuh masalah besar — yang pada awalnya dimulai dari kecurigaan. Tapi bau-bau masalah masih susah payah dibuang, kupikir itu hanya prasangka saja.

Nyatanya, di tengah tahun semua kenyataan muncul di depan mata. Kenyataan yang sakit juga. Tapi akhirnya aku lulus dengan memilih pergi — tak lagi bertahan.

Hidup memang begitu ya? Tidak ada yang mudah. Kadang rencanamu bisa kesampean, kadang ngga juga. Dan ya… ngga papa, ngga masalah. Bukan kamu yang paling tahu masa depan, tapi Semesta — yang diatur Tuhanmu.

Tahun lalu aku daftar kerja di beberapa tempat, sebelum di tempatku sekarang. Ngga lolos, padahal sudah di tahap akhir. Sedih, pasti. Kecewa, pun. Nangis, menyalahkan diri sendiri, “Kenapa sih gue bege banget?”, “Kenapa sih gagal? Emang gue sekurang itu?”

Nyatanya… Aku baru tahu hikmahnya.

Satu perusahaan , pailit— entah bagaimana ceritanya — lalu kemudian banyak cut karyawannya. Satu lagi (baru kudapat infonya di platform besar untuk cari kerja), membatalkan kontrak karyawan baru yang sudah disepakati dan ditandatangani sepihak, padahal dia sudah resign dari kantor lamanya.

Dan rupanya, di pertengahan tahun aku dapat musibah yang mengharuskanku untuk bolak-balik sana sini di jam kerja. Aku terbantu banyak di perusahaan ini — untuk izin di jam kerja, walau belum genap satu tahun aku di sini.

Bisa kau lihat hikmahnya?

Aku selamat. Aku diselamatkan.

Termasuk dalam romansa. Aku diselamatkan dari kekangan patriarki yang begitu menghina harga diriku, harga diri perempuan. Dikhianati berkali-kali, yang awalnya aku menutup mata, begitu menepis kecurigaan, nyatanya.. terbuka juga busuknya.

Aku jadi belajar banyak hal, terutama di enam bulan terakhir 2022.

Aku memulainya dengan belajar Ukulele. Aku beli satu Ukulele warna kuning. Tanpa pengetahuan akan alat musik apapun, aku belajar dari nol — tunning sendiri (pakai aplikasi sementara kupingku ndak peka nada sama sekali), liat tutorial youtube — dengan kata kunci: “…..mudah untuk pemula”.

Asyik, Asyik banget.

Walau aku ndak tahu benar/salahnya, tapi aku cukup — sangat menikmatinya. Main Ukulele — itu kesibukanku di bulan-bulan pertama aku sendirian.

Sambil masih menikmati ukulele, yang tiap minggunya aku ganti lagu (meski lagu sebelumnya belum lancar), aku juga melakukan hal lainnya.

Aku main ke mana-mana, sama bestieku Aya Canina

Cari buku di Perpusnas, duduk-duduk sambil baca di lantai paling atas, sambil lihat Monas atau penampakan gedung-gedung dan jalan di bawah, seringkali sambil buka laptop dan menulis — pun merencanakan konten..

Pergi ke taman-taman di Jakarta, bawa kopi dan jajan sendiri, juga bawa buku bacaan — lebih seringnya ambil buku di Book Hive, duduk-duduk menikmati angin dan gemerisik langkah kaki orang-orang pun kendaraan. Lain waktu pernah kami bawa tikar piknik dan makanan yang banyak, juga Ukulele kesayangan, sambil mematut diri di depan kamera handphone dan mengabadikan kegiatan kami. Menyenangkan sekali.

Kegiatan lainnya seputar healing dan program-program dari LBH Apik Jakarta — yang menemani proses keluarnya aku dari hubungan yang menyiksa kemarin. Belajar membuat konten yang “ramah gender” — dan bertemu teman-teman dengan permasalahan serupa, mengikuti program Sound Healing, dan banyak lagi.

Stasiun Gondangdia, Manggarai, Tebet, sampai Pasar Minggu menjadi saksi bagaimana dua perempuan sepi berlomba untuk meramaikan hari.

I guess everything is so much better now. For both of us. Isn’t it Aya Canina?

Bicara resolusi, di awal 2023 ini.. bingung juga.

Aku orang yang suka buat resolusi — di awal tahun, dan berakhir… tidak kulakukan. Kebanyakan justru improvisasi. Termasuk perpisahan dan sendirian lagi, tidak pernah ada di list.

Berjalan saja apa adanya, semampunya — berkaca dari Stoikisme tentang “Hidup seadanya, semampunya, tanpa ekspektasi” — aku bahas ini di Filosofi Gelas Penuh.

Maka, sekarang ini, bicara resolusi, aku cukup dengan: “Aku ingin bahagia, dan cukup.” Itu saja.

Lalu, bagaimana caranya?

Sembari menyembuhkan diri, pasti pelan-pelan kutemukan jawabannya.

Tentu aku juga punya impian dan ambisi. Bedanya, kali ini aku lihat itu lebih realistis dan tanpa ekspektasi berlebih. Bahkan sebelum memulai, aku sudah bilang ke diriku sendiri, “Kalau gagal ndak papa, bukan rezeki.”

Kata-kata itu cukup membuatku chill, menyambut semuanya tanpa tergesa. Ya, walaupun seringkali panik dan sebal, ndak papa juga.

Hhh… 2023..

Kutunggu kejutan-kejutan di sisa dua belas bulan kurang dua minggunya!

--

--

Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. #MemulaiKembali