Sayur Asem

Siang ini aku duduk, siang paling khitmat sambil menyiapkan kado untuk 14 februari besok, untuk merayakan hari kasih sayang.

Tiga belas tahun lalu, waktu aku berinisiatif kasih ibu guruku cokelat besar, entah merk apa – kupikir harganya lumayan mahal, ia tak senang. Ia bilang, ngga ada hari valentine dalam islam.

Tapi Kami tetap bersuka cita, dan ia tetap terima coklat dariku.

Tahun lalu, aku berikan coklat untuk kekasihku. Lebih murah, ndak seberapa, mungkin hanya coklat 15.000 an. Dan kutuliskan note: Happy valentine, my forever valentine!

Dan kata penguat lainnya, karena waktu itu badai lumayan kencang. Maklum, satu bulan menuju halal.

Setahuku dia senang, dan langsung dimakan coklatnya. Sendiri. Aku iseng minta dan dia gak kasih.

Tahun ini, rupanya bukan tahun yang membahagiakan juga – lebih tepatnya belum.

Aku sibuk mempersiapkan hadiah spesial – setidaknya menurutku, untuknya – untuk kami. Hadiah kecil, lagi-lagi kecil. Isinya harapan. Bahwa tak akan pernah ada akhir, kecuali kematian.

Dan ia di luar, sibuk yang entahlah, aku tak ingin terlalu tahu. Belakangan, menjadi sok tahu ini malah membawa petaka.

Aku menunggunya lumayan lama, padahal kalau dipikir-pikir… ia pernah lebih lama pergi keluar.

Namun hati yang berkabut ini nampaknya sangat cemas dan was-was. Aku redam, dengan lantunan doa kecil, berharap ia dilindungi di tiap langkahnya.

Kupikir ia sudah mau sampai, karena ia bilang pergi sebentar.

Kupikir ia sudah di jalan, mungkin ribet kalau buka handphone.

Aku buka lemari pendingin, dan ambil bahan makanan yang tadi kubeli: sayur asem.

Kuolah pelan-pelan, dengan penuh harapan ia akan bahagia sampai rumah dan sudah tersedia makanan lengkap, tinggal duduk dan piring penuh makanan sudah di tangan.

Sayur asem enaknya dimakan dingin. Maka aku pikir-pikir, jika ia sudah di ojek, sekitar 40 menitan lagi sampai, dan 40 menit sangat cukup untuk masak sampai sayurnya agak dingin.

Sayur asem itu sudah matang, rupanya. Sekitar 20 menit di atas api – atau kurang. Aku lebihkan jagungnya agar lebih manis. Kutambah cuka, karena buah asamnya kurang. Rasanya tetap enak, baunya yang agak bikin gak suka.

Aku duduk lagi, menunggu. Bau masakan masih begitu terasa. Perut ini agaknya sudah sedikit lapar, namun kutunda waktu makan, biar makan bersama saja, seperti yang kami rutinkan selama ini.

40 menit perkiraanku sudah lewat. Sayur di panci masih hangat-hangat kuku. Ndak papa, dingin lebih enak.

Kutunggu lagi. Satu jam…

Akhirnya kukirim pesan padanya. Dan ia baru jalan ke stasiun, baru beranjak dari pertemun dengan rekannya. Pikiranku langsung berkelana.

Gimana kalo….

Gimana kalo….

Apa bener dia pergi ke…..

Trust ini benar-benar sudah menjadi issue, dan ini harus segera dipangkas.

Ia pun sampai. 4 jam kemudian. Di genggamannya ada empat batang coklat. Katanya untukku, untuk merayakan hari kasih sayang. Ya. Coklat. Tanpa notes. Tapi aku tetap tersipu. Ia masih sadar pentingnya merayakan hari.

Sayur asem yang kumasak pun sudah benar-benar dingin. Ah… waktunya makan sayur asem ternikmat yang sudah kelewat dingin.

--

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Agnicia Rana

Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali