Semua Ada Baiknya

Cerita hidup tak melulu ceria, seringnya mendung, duka. Karena manusia punya emosi, punya jiwa yang selalu haus, punya logika yang butuh dibenarkan.

Harus ada yang mengalah, bahkan untuk ego yang biasanya selalu ingin di depan. Justru itu, ego adalah kunci. Mau kau pendam saja, dan baik-baik saja pada dunia, atau kau keluarkan isinya dan tunggu dunia menertawakanmu.

Maka Tuhan selalu punya cara. Untuk semesta berpihak. Bahwa nyata adanya Tuhan, Yang Haqiqi, Maha Esa, Maha Segalanya.

Mungkin dulu kau terlalu mengejar dunia, lalu apa yang kau dapat? Justru duniamu akan hilang. Akhirat makin jauh.

Dunia tak pernah berpihak, betul, mungkin karena selalu kau kejar, selalu kau pupuk kekhawatiran untuknya: mau makan apa besok, butuh duit sekian untuk ini itu, oh terlalu berat rasanya capai target. Kau selalu khawatir.

Termasuk khawatir ditinggalkan, diabaikan.

Manusiawi memang. Namun jika berlarut, percayalah, kau tak akan pernah bisa menerima dampaknya.

Hidup itu seperti roda. Berputar. Karma does exist. Your destiny is in your mouth. Dan itu benar adanya.

Maka jangan bermain-main dengan apa yang kau katakan. Boleh jadi Tuhan anggap itu doa. Padahal itu kehancuran untukmu.

Maka saat itu datang, kau dipaksa tunduk. Dipaksa lakukan apa yang seharusnya kau lakukan jauh-jauh hari. Dipaksa untuk tahan emosi, padahal semesta yang kurang ajar.

Eits, tapi kau tak bisa salahkan siapapun, atau apapun.

Mungkin yang terjadi pada kau adalah hal yang pernah kau bicarakan, kau doakan, namun saat itu kau tak sadar bahwa itu kehancuran.

Maka Tuhan memanggilmu, “Oi, anak Tuhan. Datanglah. Tunduk, taubat, akui salahmu.”

Ketika panggilan ini datang, yang kau bisa hanya menangis sambil tahan malu. Begitu kecil tak berdaya, tak ada lagi yang bisa kau sombongkan.

Lalu kau datang memohon, hari pertama dan kedua kau masih menyangkal, kau marah dan selalu bertanya, “Kenapa?”

Hari-hari selanjutnya kau lelah, dan berusaha pasrah.

Besoknya, boleh jadi kau marah lagi, kembali ke titik sebelumnya. Atau mengelak lagi, atau menangis lagi.

Lalu dalam tiap tangisan kau panjatkan doa, “Tuhan tolong… Tuhan tolong aku.”

Selanjutnya kau rasakan Ia memelukmu, sambil berkata, “Tenang, jangan khawatir. Serahkan padaku. Tugasmu cuma satu: ikhlas.”

Bisa saja saat itu kau menangguk, sambil semakin menjadi air matamu. Selanjutnya kau menjadi seorang yang kuat, yang berani, yang percaya diri — bahwa kau bisa selesaikan karena selalu ada Tuhan.

Tapi manusia bisa goyah, kau bisa jatuh lagi kapanpun. Dan saat itu, kau tahu kapan dan kepada siapa kau akan mengadu kembali: Tuhanmu.

Ia berkata kemudian, “Semua ada baiknya. Pasti ada yang bisa kau petik. Anakku, aku mencintaimu. Percayalah janjiku, jika kau sabar, kau ikhlas, aku beri yang paling baik dari yang terbaik. Simpan janjiku.”

Saat itu janganlah ragu, Tuhan membantumu. Tuhan akan angkat derajatmu, dan kedua orang tuamu. Kamu akan terlahir kembali dengan sinar menyala di wajahmu.

Tuhan tidak tidur, Ia tidak makan ataupun minum, namun Ia Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Pengabul Doa, Maha Besar.

Maka jangan khawatir, semua gundah di ujung jemarimu akan tuntas. Beban di pundakmu akan ringan. Percayalah Tangan Tuhan adalah tangan terbaik dalam menyelesaikan permasalahan.

Insyaallah….

--

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Agnicia Rana

Agnicia Rana

Sebuah perjalanan pencarian jati diri. Tempat misuh-misuh. IG: agniciarana #MemulaiKembali